Laman

Entri Populer

Sabtu, 07 Agustus 2010

Beck Anime

BECK
Genre Musik, Roman, Kehidupan
Manga
Pengarang Harold Sakuishi
Penerbit Flag of Japan.svg Kodansha
Demografi Shōnen
Majalah Monthly Shōnen Magazine
Tanggal penerbitan 17 Februari 200017 Mei 2008
Jumlah buku 34
Portal Anime dan Manga





BECK adalah judul sebuah manga yang ditulis oleh Harold Sakuishi yang diterbitkan oleh Kodansha di Jepang. Di Indonesia, manga ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo dan dimasukan dalam kategori komik remaja Shonen Magz.

Manga ini diadaptasikan dalam sebuah film yang diperankan oleh aktor, dan akan dirilis di tahun 2010. Aktor Jepang Hiro Mizushima dan Takeru Satoh akan berperan sebagai tokoh Ryusuke dan Koyuki di film ini.

Manga ini bercerita tentang sekelompok remaja Jepang yang menapaki karier dibidang musik rock. Pemuda bernama Tanaka Yukio (14 tahun) atau yang lebih dikenal oleh temannya dengan sebutan Koyuki merasa bosan dengan kehidupannya yang sangat datar, sampai akhirnya kehidupannya yang membosankan hilang ketika ia menolong seekor anjing bernama Beck dari anak-anak nakal. Disaat ini lah ia bertemu Ryusuke (yang saat itu berusia 16 tahun) pemilik dari anjing yang Koyuki tolong. Ryusuke telah lama tinggal di Amerika dan sangat berbakat dalam bermusik khususnya musik rock. Ryusuke lah yang memperkenalkan Koyuki dunia musik, ia pun juga mempengaruhi Koyuki untuk belajar memetik gitar hingga mahir.

Cerita berlanjut dengan perjalanan dan lika-liku band bernama BECK yang telah dibentuk oleh Ryusuke. Dalam kesehariannya mereka berlatih dan terus mencari personil untuk band mereka, sampai suatu saat Chiba dan Taira ikut bergabung sebagai Vokalis dan Bassis, dan Saku yang merupakan teman sekolah Koyuki membuat mereka terpesona oleh kemahirannya dalam mengaduh Drum sehingga menjadikannya ia sebagai Drummer dalam band ini. Di dalam manga ini, juga menceritakan tentang hubungan Koyuki, khususnya hubungan dengan Ryusuke dan hubungan cintanya dengan Maho yang merupakan adik dari Ryusuke.

Tokoh

Yukio "Koyuki" Tanaka

Yukio Tanaka adalah karakter utama dalam cerita ini, ia adalah vokalis dan gitaris kedua di BECK, pernah diajak menyanyi oleh vokalis Dying Breed, Mat Reed dan suaranya biasa dipakai untuk suara rendah (bas). Gitarnya sendiri pertama adalah Gretch yang dipinjamkan oleh Kenichi Saitou, pemilik pabrik kertas tempat Koyuki bekerja; Fender Telecaster warna kuning, SG yang ditemukannya ketika sedang bekerja pada jasa angkut pindahan; Fender Mustang yang dibelinya di London sesuai nasehat Billy Riley.

Ryusuke "Ray" Minami



Seorang pemalas, namun merupakan gitaris yang handal, dia menginspirasikan Koyuki untuk bermain gitar, dia adalah pendiri BECK dan gitaris utama di bandnya. Ray sebagai gitaris pertama, berteman baik dengan Eddie Lee, gitaris dari band internasional Dying Breed. Sebuah cerita dan konflik mengelilinginya dan gitar Gibson Les Paul miliknya, Prudence (Versi orisinalnya adalah Lucille)

Maho Minami

Maho adalah adik dari Ryusuke, ia penyanyi yang berbakat. Koyuki bertemu dengan Maho pertama kali didalam sebuah cafe, dimana Maho bernyanyi disana. Mereka semakin akrab ketika mereka bernyanyi Follow Me bersama di acara reuni guru renang Koyuki, Kenichi Saitou. Semakin lama hubungan mereka semakin romantis.

Ken'ichi Saitou



Saitou mengajari Koyuki renang dan bermain gitar, ia meminjamkan gitarnya kepada Koyuki untuk berlatih dirumahnya. Ia adalah fans fanatik dari band internasional Rocket Boys yang menyanyikan lagu "Follow Me"

Taira Yoshiyuki



Bassis band BECK, anggota pertama yang direkrut oleh Ryusuke, permainannya sangat funky untuk ukuran seorang pemain bass, merupakan anggota yang paling dewasa walaupun wajahnya selalu kelihatan tidak peduli. Disaat pertunjukan, ia melepaskan bajunya menunjukan ciri khasnya di BECK.

Chiba Tsunemi



Vokalis utama BECK, Chiba lebih terpengaruh dengan musik rap dan punk ketimbang Koyuki yang lebih pas menyanyikan lagu Slow di BECK, bakatnya sebagai rapper sangat tinggi dan pernah mengikuti duel rapper walaupun kalah. Chiba bertemu dengan Ryusuke disaat permainan baseball berlangsung dan membawa keyakinan dari Ryusuke bahwa Chiba adalah vokalis dengan talenta baik di panggung.

Sakurai "Saku" Yuji



Saku adalah drummer BECK, dia adalah anggota terakhir yang bergabung. Ia dan Koyuki adalah teman sekelas dan teman dekat. Dia seorang yang pendiam dan sering sekali dikasari oleh berandal kelas. Koyuki adalah orang pertama yang diajaknya berbicara.

Keamanan cerita dan kemiripan dengan manga lain

Beck boleh dilihat anak kecil dan tidak berbahaya sama sekali, sampai manga lain yang agak berbahaya, seperti Beyblade mengambil kemiripan ceritanya (Beyblade G-Revolution, sesi ke III), di antaranya karena adanya karakter bernama Ming-Ming, yang terkadang bernyanyi di beberapa episode. Ada pula K-On!, yakni manga seperti Beck, hanya saja, Beck untuk anak laki-laki dan K-ON untuk anak perempuan.

Selasa, 03 Agustus 2010

Kuil Menarik Pengunjung Dengan Anime dan Manga

Para gadis yang berpakaian sebagai maid atau pelayan memang tidak ada hubungannya dengan agama apapun. Tapi itu tidak menghentikan para tabib di sebuah kuil yang telah berusia ratusan tahun untuk memanfaatkan budaya pop Jepang untuk merayu pengunjung datang.

Yaitu anime dan manga.



Kuil Ryohoji yang dibangun pada akhir abad ke-16 di pinggiran kota Tokyo, menampilkan banner penuh warna yang diilhami oleh karakter-karakter manga di pintu masuk kuil pada bulan Juni lalu.

Di akhir pekan, kuil tersebut membuka kafe di tenda-tenda yang dikelola oleh gadis-gadis imut mengenakan kostum anime. Sejak itu, jumlah pengunjung menjadi banyak - terutama anak muda (laki-laki tentunya).

"Saya datang karena kuil ini telah menjadi bahan pembicaraan di Internet," kata Mitsutaka Adachi, seorang programmer perangkat lunak berumur 26 tahun, salah satu dari banyak pengunjung yang baru pertama kalinya datang ke kuil kuno ini.

"Saya sedikit terkejut melihat perubahan ini, tapi menyenangkan juga," kata Mitsutaka. "Hal ini dapat memotivasi orang untuk datang ke sini."

Salah satu gadis berkostum pelayan, yang mengenalkan dirinya sebagai Yurin, mengatakan hal ini bagus karena orang-orang muda mau datang ke kuil. "Ini adalah pengalaman pertama saya sebagai seorang pelayan, tapi aku sangat menikmatinya," ia menambahkan.

Kepala kuil Ryohoji, biarawan Shoko Nakazato, 45 tahun, mengatakan bahwa perubahan ini berdampak positif.

"Saya berasal dari generasi yang tumbuh menyaksikan anime dan manga di televisi. Meskipun saya tidak hobi membaca manga atau menonton anime, saya tidak pernah menentang budaya pop ini. Saya juga ingin memberitahu orang bahwa kuil adalah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi," katanya.




Toromi, seorang penyanyi yang menggambar karakter manga di salah satu tenda, mengenakan kostum yang diilhami oleh seorang dewi yang dipuja di kuil tersebut. "Saya sangat bahagia karena tiba-tiba banyak orang yang datang," kata Toromi yang juga mengaku seorang otaku.

Sebelumnya Ryohoji hampir tidak ada pengunjung selama hari kerja, tetapi baru-baru ini selalu ada 20-30 orang datang setiap hari.

Seni Padi Menggambar Sawah di Jepang

Menggambar dan melukis di kanvas kecil saja butuh keahlian khusus, apalagi melakukannya di bidang yang luasnya mencapai 1 hektar seperti ini...





Bagaimana ceritanya sampe bisa ada gambar-gambar raksasa di sawah?

Hampir dua dekade lalu, Koichi Hanada, seorang pegawai di balai desa menerima permintaan yang tidak biasa dari atasannya, yaitu dia harus menemukan cara untuk menarik banyak wisatawan datang ke desa mereka yang memiliki banyak sawah dan kebun apel.

Waktu itu Koichi jelas bingung setengah hidup karena dia gak ngerti apa yang bisa dijual dari sebuah pemandangan sawah dan kebun apel. Memangnya siapa yang mau jalan-jalan cuma untuk lihat sawah???

Tak terasa Koichi telah menghabiskan waktu berbulan-bulan memeras otaknya, sampai di suatu hari dia melihat anak-anak sekolah menanam padi sebagai proyek pelajaran kelas. Mereka menggunakan dua varietas tanaman padi, satu dengan warna batang keunguan gelap dan yang lainnya berwarna hijau terang.

Kemudian ia berpikir, mengapa tidak menanam jenis padi berwarna sedemikian rupa untuk membentuk gambar dan kata-kata?

"Aku tidak tahu ide seperti itu bisa sukses besar," katanya.




Hasilnya adalah apa yang sekarang disebut sebagai seni padi, yang telah menempatkan nama desa kecil ini pada peta.

Maka dari itu setiap tahun sejak 1993, warga desa Inakadate telah membuat gambar dengan menggunakan sawah sebagai kanvas mereka dan tanaman hidup sebagai cat dan kuas. Tahun lalu saja, lebih dari 170.000 pengunjung menyesaki jalan-jalan sempit yang tenang di desa ini dan mereka terpaksa menunggu berjam-jam untuk melihat seni padi ini.

"Kami tidak punya laut dan tidak ada gunung, tapi kita punya banyak padi," kata Koyu Suzuki, sang walikota yang sudah berusia 70 tahun. "Kita harus menciptakan peluang industri pariwisata sendiri dengan menggunakan apa yang kita punya."

Warga desa berharap seni padi ini bisa membantu desa mereka untuk hidup kembali. Seperti banyak nasib pedesaan di Jepang, mereka mengalami masa-masa sulit karena populasi yang menyusut, beban utang, dan penurunan jumlah pendapatan dari sektor pertanian.




Daripada meninggalkan gambar-gambar lingkaran yang dikira ciptaan alien, mendingan gambar khas Jepang kan?

Siapa Sebenarnya Kuchisake Onna?

kalau kamu suka sama cerita-cerita horror dari Jepang, pasti udah gak asing lagi sama nama yang satu ini. Kuchisake Onna...







Legenda ini dikatakan berasal dari seorang perempuan muda bernama Kuchisake Onna yang hidup ratusan tahun yang lalu sebagai istri atau selir dari seorang samurai. Perempuan ini mempunyai wajah yang sangat cantik, karena itu sang samurai berkata tidak akan ada lagi wanita lain yang akan dicintainya.

Tapi rupanya cinta bertepuk sebelah tangan dan perempuan muda tersebut mengkhianati sang samurai dengan berselingkuh. Ketika rahasia gelapnya diketahui, sang samurai tentu merasa sangat cemburu dan langsung naik pitam.

Mata hatinya menjadi gelap dan akal sehatnya sirna. Dia langsung mencabut pedangnya dan membelah celah mulut sang perempuan dari telinga kanan ke telinga kiri. Dia lalu berkata, "Siapa yang akan berpikir kalau kamu cantik sekarang?!"

Mulut Kuchisake Onna menganga terbuka lebar, tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Yang ada hanya darah mengalir deras membasahi kimononya. Matanya melotot dan berlinang air mata menandakan bahwa dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi tetap tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Dibiarkan begitu saja oleh sang samurai selama berjam-jam lamanya, sampai akhirnya dia meninggal dunia. Karena matinya penasaran, arwahnya masih bergentayangan untuk terus mencari sang samurai dan menuntut balas dendam.

Julukannya adalah setan bermulut celah.



Singkat cerita, legenda ini diteruskan turun-temurun sampai sekarang. Mitos yang ada sekarang adalah mitos yang menyatakan bahwa seorang wanita menjelajah di malam hari dengan wajah tertutup oleh masker bedah.

Ketika ia menemukan seorang laki-laki, dia malu-malu akan bertanya, "Apakah aku cantik?" ("Watashi kirei?").

Jika orang itu menjawab "Ya," maka ia akan melepas topeng dan berkata, "Bagaimana kalau sekarang?" ("Kore demo?"). Pada titik ini, jika korban menjawab "Tidak," dia akan membunuh mereka atau memotong mulut mereka menyerupai miliknya dengan gunting atau pisau.

Tapi jika korban mengatakan dia tetap cantik untuk kedua kalinya (setelah sang perempuan membuka maskernya), ia mengikuti korban sampai ke rumah dan membunuh mereka di ambang pintu tempat tinggal mereka.

Jadi berhati-hatilah jika kalian berjalan sendirian di malam hari.

Jumat, 30 Juli 2010

Tsuchinoko


Tsuchinoko (ツチノコ?) adalah hewan yang dilaporkan ada di Jepang tapi belum pernah bisa dibuktikan (cryptid). Bentuknya seperti ular namun berperut gendut mirip botol atau pin boling dengan ekor yang kecil mirip ekor tikus. Hewan ini dilaporkan pernah "dilihat" saksi mata di berbagai tempat di Jepang, kecuali di Hokkaido dan Kepulauan Ryukyu. Hingga kini, tsuchinoko belum pernah berhasil ditangkap orang karena saksi mata menjadi takut, atau hewan ini lebih dulu melarikan diri.

Nama "Tsuchinoko" berasal dari nama lokal untuk "hewan" ini menurut penduduk daerah Kansai (Kyoto, Mie, Nara, dan Shikoku). Di daerah Kanto, penduduk menyebutnya sebagai bachihebi. Beberapa pemerintah daerah di Jepang menawarkan hadiah uang dalam jumlah besar bagi orang yang berhasil menangkap tsuchinoko. Hadiah uang sebesar 100 juta yen pernah ditawarkan kota Itoigawa, Niigata.

Saksi mata yang mengaku pernah "melihat" tsuchinoko melaporkan ciri fisik dan tingkah laku sebagai berikut:

* Dibandingkan dengan ular biasa, bagian perut sedikit agak gendut
* Kuat meloncat hingga sekitar 1 meter
* Suka minum sake
* Bisa berbunyi "chii"
* Bergerak dengan sangat cepat
* Cara bergerak seperti ulat atau menggulung diri sambil menggigit bagian ekor dan berputar bagaikan roda
* Dari mulut menyemburkan api.

* Alat-alat dari batu berbentuk ular yang mirip tsuchinoko ditemukan dari situs arkeologi zaman Jomon di Hida, Prefektur Gifu. Gambar yang mirip tsuchinoko juga ditemukan pada bagian luar tembikar berbentuk guci yang berasal dari situs arkeologi di Prefektur Nagano.
* Tsuchinoko dijelaskan sebagai dewa padang rumput dalam literatur klasik Kojiki yang ditulis pada abad ke-8.
* Dalam ensiklopedia Wakan Sansai Zue asal zaman Edo, tsuchinoko ditulis dalam artikel berjudul Nozuchihebi (野槌蛇), ular palu ladang).

Kemungkinan besar, orang hanya salah melihat saja. Perut ular yang baru saja menelan mangsa berukuran besar akan membesar seperti sosok tsuchinoko yang dilaporkan saksi mata. Selain itu, tsuchinoko mirip dengan kadal genus Tiliqua yang masuk ke Jepang sebagai hewan peliharaan sejak sekitar tahun 1970-an. Kadal tersebut memiliki kaki yang kecil dan hampir tidak terlihat, sehingga di tengah kerimbunan dapat disangka sebagai tsuchinoko.